Sunday, 31 January 2016

Mereka Kaum Mujassimah

Tajsim/penjasmanian dan Tasybih/penyerupaan Allah swt. kepada makhluk-Nya Golongan Wahabi/Salafi melarang orang mentakwil ayat-ayat Ilahi atau hadits-hadits Rasulallah saw. yang berkaitan dengan shifat. Jadi bila ada kata-kata di alqur’an wajah Allah, tangan Allah dan seterusnya harus diartikan juga wajah dan tangan Allah secara hakiki.
Sebagaimana yang telah dikemukakan yaitu pengalaman seorang pelajar di kota Makkah berceritera bahwa ada seorang ulama tunanetra yang suka menyalahkan dan juga mengenyampingkan ulama-ulama lain yang tidak sepaham dengannya mendatangi seorang ulama yang berpendapat tentang jaiznya/bolehnya melakukan takwil (penggeseran arti) terhadapayat-ayat mutasyabihat/samar. Ulama tunanetra yang tidak setuju dengan kebolehan menakwil ayat-ayat mutasyabihat di atas itu langsung membantah dan mengajukan argumentasi dengan cara yang tidak sopan dan menuduh pelakuan takwil sama artinya dengan melakukan tahrif (perubahan) terhadap ayat Al-Qur’an.
Ulama yang membolehkan takwil itu setelah didamprat habis-habisan dengan tenang memberi komentar: “Kalau saya tidak boleh takwil, maka anda akan buta di akhirat”. Ulama tunanetra itu bertanya: “Mengapa anda mengatakan demikian?”. Dijawab: Bukankah dalam surat al–Isra’ ayat 72 Allah swt berfirman: “Barangsiapa buta didunia, maka di akhirat pun dia akan buta dan lebih tersesat dari jalan yang benar”. Kalau saya tidak boleh takwil, maka buta pada ayat ini pasti diartikan dengan buta mata dan tentunya nasib anda nanti akan sangat menyedihkan yakni buta diakhirat karena didunia ini anda telah buta mata (tunanetra). Karena- nya bersyukurlah dan hargai pendapat orang-orang yang membolehkan takwil sehingga kalimat buta pada ayat di atas menurut mereka diartikan dengan: buta hatinya jadi bukan arti sesungguhnya yaitu buta matanya. Ulama yang tunanetra itu akhirnya diam membisu, tidak memberikan tanggapan apa-apa!
Sebagaimana sering diutarakan bahwa golongan Salafi-Wahabi dan pengikutnya, percaya bahwa Al-Qur’an dan Sunnah hanya bisa diartikan secara tekstual (apa adanya teks) atau literal dan tidak ada arti majazi atau kiasan didalamnya. Pada kenyataannya terdapat ayat al-Qur’an yang mempunyai arti harfiah dan ada juga yang mempunyai arti majazi, yang mana kata-kata Allah swt. harus diartikan sesuai dengannya. Jika kita tidak dapat membedakan diantara keduanya maka kita akan menjumpai beberapa kontradiksi yang timbul didalam Al-Qur’an. Maka dari itu sangatlah penting untuk memahami hal tersebut. 

Marilah kita ikuti berikut ini ayat-ayat Ilahi yang mutasyabihat (kalimat perumpamaan atau kalimat samar) dalam menerangkan keadaan diri-Nya, seperti dalam firman-firman-Nya: “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, Menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah, Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam (QS Al-Araf: 54).
Dalam QS. An-Nur: 35: ” … Allah adalah cahaya langit dan bumi” . Dalam QS. As-Shaad:75: ” ...hai iblis apakah yang menghalangi kamu bersujud kepada yang telah Ku Ciptakan dengan kedua tangan-Ku …” Dalam QS. Al-Fushilat 12: “maka Allah menjadikannya tujuh langit dalam dua hari…” Dalam QS Al-Baqarah:186 “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku ini dekat …” . Dalam QS Qaaf:16: "..dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya” . Dalam QS. Al-Fushilat: 5: ” .. ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha meliputi segala sesuatu” .
Dalam QS. Al-Baqarah:115: ”.. kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah .. “ dan juga masih ada firman-friman Allah lainnya yang mutasyabihaat. Sangat jelas bagi kita, bahwa ungkapan-ungkapan mutasyabihat ayat-ayat di atas ini, dimengerti bukan untuk ditafsirkan secara hakiki/arti sebenarnya, tetapi boleh ditafsirkan secara majazi/kiasan. Bila ayat-ayat di atas ini mempunyai arti yang sebenarnya maka akan berbenturan dengan ayat-ayat ilahi diantaranya dalam QS (42):11; QS (6): 103; QS (37): 159, yang telah dikemukakan tadi.

Alqur’an di dalam mengungkapkan suatu masalah ada yang konkrit, misal- nya hukum waris, hukum syariat mu’amalat, dijelaskan dengan kalimat yang bukan kiasan, yaitu muhkamat artinya sudah jelas, tidak perlu ditafsirkan lagi, seperti shalatlah kamu, bayarlah zakat, dan sebagainya. Akan tetapi kalau sudah mencakup persoalan ghaib, misal: tentang Allah, rahasia langit, peralatan akhirat, surga, dan neraka dan lain-lain maka Alqur’an mengguna- kan kalimat perumpamaan (metafora), yang biasa disebut mutasyabihaat. Kurang tepat juga bila dikatakan kalau Allah berada di mana-mana, walau pun difirmankan“….kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah”. Juga tidak pula bisa dikatakan bahwa Allah berada di langit atas sana sehingga kita harus menunjuk ke arah atas atau ketika kita berdo'a kita menengadahkan tangan ke atas sambil dibenak/dipikiran kita beranggapan bahwaAllah seolah-olah ada di langit di atas nun jauh di sana. 
Sekali lagi kalau dikatakan Allah di langit atas sana berarti Allah bertempat tinggal di langit dan kalau demikian jadinya berarti selain dilangit apakah tidak ada Allah? Na'udzubillah. Hakikat langit yang sebenarnya bukanlah berupa alam fisik, seperti dzan (persangkaan) kita selama ini. Dia Maha meliputi segala sesuatu. Begitu juga bila Allah swt. memerlukan singgasana (’Arsy), seakan-akan Allah setelah membuat langit dan bumi berserta isinya naik kembali ke tahta-Nya? Kalau Allah memerlukan singgasana (’Arsy) berarti Allah memerlukan ruangan untuk bertempat tinggal?, na'udzubillah. Alangkah kelirunya bila orang mengartikan ayat-ayat ilahi yang mutasyabihaat (samar) ini secara hakiki/arti sebenarnya. Mereka mengatakan Allah dalam menciptakan iblis menggunakan kedua tangan-Nya secara hakiki, dan dikatakan Allah mempunyai wajah Na'udzubillah dan lain sebagainyasecara hakiki. Dengan adanya riwayat-riwayat demikian, Allah swt. menjadi seorang makhluk Na'udzubillah yang mempunyai sifat-sifat hakiki yang dimiliki oleh makhluk-Nya.

Bahwa istilah ‘langit’ bukan hanya melukiskan alam fisik saja tetapi keseluruhannya, dari alam terendah sampai tertinggi, dari alam ghaib sampai alam maha ghaib. Istilah ‘langit’ digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang ghaib, dan bukan melulu alam fisik. Banyak ahli tafsir yang mengartikan makna-makna ayat Allah swt., umpamanya: “Kursi Allah meliputi langit dan bumi." Kata Kursi dalam ayat ini berarti Ilmu, jadi ayat ini diartikan sebagai berikut: “Ilmu Allah meliputi langit dan bumi”. Begitu juga firman-firman Allah swt. berikut ini: Wajah Allah berarti Dia Allah, Tangan Allah berarti Kekuasaan Allah, Mata Allah berarti Pengawasan Allah dan lain sebagainya. Pada kenyataannya terdapat ayat al-Qur’an yang mempunyai arti harfiah dan ada juga yang mempunyai arti majazi, yang mana kata-kata Allah swt. harus diartikan sesuai dengan ke Maha sucian dan ke Maha agungan-Nya. Jika kita tidak dapat membedakan diantara keduanya maka kita akan menjumpai beberapa kontradiksi yang timbul didalam Al-Qur’an. Marilah kita teliti lagi berikut ini beberapa contoh saja dari ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits yang ditakwil (digeser) dari makna aslinya/dhahirnya teks dan firman-firman Allah swt. yang mutasyabihat harus diartikan sesuai dengannya, dengan demikian tidak akan berbenturan dengan firman-firman Allah swt. yang lain. Di antara sahabat besar yang berjalan di atas kaidah ta’wîl adalah Sayyiduna Ibnu Abbas ra., anak paman Rasulallah saw. dan murid utama Ali -karramallahu wajhahu- yang pernah mendapat do’a Nabi saw. , “Ya Alah ajarilah dia (Ibnu Abbas) tafsir Kitab (Al Qur’an).” (HR. Bukhari). Telah banyak riwayat yang menukil ta’wîl beliau tentang ayat-ayat sifat dengan sanad yang shahih dan kuat.
Ibnu Abbas menta’wîl ayat:
يوم يكشف عن ساق
Pada hari betis disingkapkan.” (QS.68 [al Qalam]:42)
Ibnu Abbas ra. berkata (ayat itu berarti): “Disingkap dari kekerasan (kegentingan).” Disini kata. ساق
(betis) dita’wîl dengan makna. سدة
kegentingan.
Ta’wîl ayat di atas ini telah disebutkan juga oleh Ibnu Hajar dalam Fathu al Bâri,13/428 dan Ibnu Jarir dalam tafsirnya 29/38. Ia mengawali tafsirnya dengan mengatakan, “Berkata sekelompok sahabat dan tabi’în dari para ahli ta’wîl, maknanya (ayat al-Qalam:42) ialah, “Hari di mana disingkap (diangkat) perkara yang genting.” Dari sini tampak jelas bahwa menta’wîl ayat sifat adalah metode dan diamal- kan para sahabat dan tabi’în. Mereka adalah salaf kita dalam metode ini. Ta’wîl itu juga dinukil oleh Ibnu Jarir dari Mujahid, Said ibn Jubair, Qatadah dan lain-lain.
والله اعلم



Terimakasih Atas Kunjungan Anda!

silakan like facebook kami utk mendapatkan bacaan yg lebih menarik lagi. www.facebook.com

Penulis Sirah Rasulullah Pertama Kali

"Metode Ilmiah dlm Penulisan sirah Nabi"
Sebagaimana diketahui bersama, sirah Nabi SAW. yg tertulis juga merupakan bagian "sejarah" meskipun sirah Nabi SAW. berangkat dari sejarah dan menyasar objek berbagai kejadian historis dlm rangkaian peristiwa kronologis.
metode apakah yg dipakai para penulis sirah dlm menyusun dan menulis karya mereka?
Pada saat itu, mereka menggunakan metode yg dalam penulisan sejarah dikenal sebagai "aliran objektif".
Disebut aliran objektif, karena para penulis sirah Nabi tidak mengandalkan karya mereka semata untuk memotret kejadian dalam hidup sang Nabi, tetapi hanya utk mengukuhkan informasi sahih dari beliau. Dalam hal ini mereka menggunakan metode ilmiah yg tertuang dlm ilmu "mushthala al-hadis" terumama berkaitan sanad dan matn, dan dalam ilmu "al-jarh wa al-ta'dil" yg berkaitan dgn para perawi, meliputi otobiografi dan catatan kepribadian masing-masing.
ketika menemukan sebuah kejadian yg dinilai benar-benar nyata berdasarkan kedua metode yg digunakan, mereka akan langsung menuliskan tanpa tambahan ide, pemikiran, opini, ataupun hal-hal yg berhubungan dgn kondisi saat itu.
pada saat itu, mereka selalu memandang keberhasilan dlm mendapatkan bukti kebenaran sejarah melalui metodologi yg digunakan merupakan "realitas suci" yg harus dipaparkan kembali apa adanya. mereka meyakini, memasukan opini dan tendensi pribadi ke dalam sirah Nabi SAW. merupakan pengkhianatan yg tak terampuni.
berikut adalah orang pertama (para sahabat) yg diduga kuat dlm menulis sirah Nabi:
1. Urwah ibn Zubair (wafat 92 H)
2. Abban ibn Ustman (wafat 105 H)
3. Wahb ibn Munabbih (wafat 110 H)
4. Syarhabil ibn Sa'd (wafat 123 H)
5. Ibnu Syihab A-Zuhri (wafat 124 H)
WALLAHU 'ALAM....!!

Terimakasih Atas Kunjungan Anda!

jangan lupa like facebook kami terdapat banyak bacaan yg lebih keren: www.facebook.com

Fanatisme Buta

    Sesuatu yg terlahir dari yg buruk, maka ia akan buruk pula, sebelum ada tanda-tanda tentang kebaikannya.
    Sabaiyyah adalah kelompok di luar Islam. Dan ini ada konsensus para Ulama. Bahkan, Syi'ah sendiri mengatakan mereka bukan bagian darinya. Namun, utk mengenal Syi'ah kita harus meranut dari akar sejarah Sabaiyyah ini.
    Dalam segala linea(pemikiran, perbuatan dan perkataan), Syi'ah identik dengan extrem. Extrem ini berawal dari cinta palsu yg over dosis di padukan dengan benci sampai mati, yg melahirkan ideologi-ideologi sempalan di luar pemahaman Ahlussunnah wal Jama'ah.
   Terkait fanatisme buta ini, tidak ada perbedaan antara Wahabi Salafi dan Syi'ah. Syi'ah karena fanatisme butanya hingga menabikan Sayyidina Ali, bahkan menuhankannya. Begitu juga Salafi Wahabi, karena fanatisme butanya juga hingga melihat kebenaran hanya ada pada pemimpinnya.
    Munculnya Syi'ah berawal dari kekacauan kondisi ummat islam di paruh kedua periode Khalifah Usman. Kondisi ini dimanfaatkan oleh musuh islam yg datang dari Yaman yaitu si Ibn Saba, yg keberadaannya kini telah didistorsikan oleh sebagian mereka guna menutupi kedoknya.
    Namun, berbagai sumber terpercaya dari berbagai sekte mencatat bahwa Ibnu Saba itu ada dan tidak misterius.
    Abdullah bin Saba inilah yg mempropaganda muslim kala itu lewat penanaman cinta palsu kpd Ali KW dan benci kpd Usman RA, hingga mengkudekatan khalifah Usman sampai terbunuhnya beliau.
    Kelompok Sabaiyyah inilah yg melahirkan Syi'ah sekte lain hingga hari ini. Sehingga, ideologi mereka tidak jauh berbeda. Teologi mereka (syi'ah) merupakan copy paste dari teologi yahudi. Karena memang Ibn Saba adalah Yahudi yg masuk islam pada periode Khalifah Usman, tapi dia adalah seorang munafik.
    Dari sini lah Syi'ah terlahir. Maka, sangat sulit utk dapat diterima jika mereka mengembor-gemborkan persaudaraan dan persatuan. Sesungguhnya, itu hanya trik menarik simpati dan memposisikan diri saja.

Terimakasih Atas Kunjungan Anda!

silakan kunjungi facebook kami juga >>  http://facebook.com

Enter your email address:

Author-rights® by: QH

Blogger Tips and TricksLatest Tips And TricksBlogger Tricks
notifikasi
close