Wednesday, 14 December 2016

Mengenal Abuya Muda Waly al-Khalidy




~Kelahiran dan asal-usulnya~

     Abuya dilahirkan pada tahun 1917 di desa Blangporoh, kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan. Abuya merupakan putera bungsu Syeikh Haji Muhammad Salim bin Malin Palito dan mempunyai beberapa orang saudara, sebenarnya beliau mempunyai adik, tetapi karena meninggal dunia waktu masih kecil, maka beliau dianggap putera bungsu.
   
     Syeikh Muhammad Salim berasal dari Batusangkar Sumatra Barat, Haji Muhammad Salim datang ke Aceh Selatan sebagai Da'i atau pendakwah, juga sebagai guru Agama. Paman beliau yang masyhur dipanggil masyarakat “Tuanku Peulumat” telah lama mendahului beliau merantau ke Aceh Selatan dan tinggal di Labuhan Haji, nama Tuanku Peulumat adalah Syeikh H. Abdul Karim, beliau juga merupakan da'i, guru dan juga seorang ulama. Atas dasar inilah Haji Muhammad salim meninggalkan Sumatra Barat menuju ke Aceh Selatan menggunakan perahu pada masa itu.
 
    Tidak lama setelah Haji Muhammad Salim berada di Labuhan haji, dibawah pimpinan pamannya, beliau mendapat jodoh, wanita pilihan yang bernama “Janadat” puteri kepala desa yang bernama Meuchik Nyak Ujud, dari desa Koto Palak, kecamatan Labuhan Haji.
 
    Pada saat Abuya masih kecil, adik kandungnya meninggal, bahkan ibu Abuya pun “Siti Janadat” kembali ke rahmatullah, ada yang mengatakan Ibu Abuya meninggal saat melahirkan, sehingga tinggallah Abuya sebagai anak yatim. Abuya prof Muhibbudin waly (anak Abuya Muda waly) pernah mendengar cerita dari sahabat Abuya Muda Waly yang juga anak murid Abuya Muda waly yaitu Syeikh Haji Tengku Adnan Mahmud, pimpinan pesantren Ashabul Yamin di Bakongan Aceh Selatan, Haji Muhammad Salim pernah bermimpi bahwa bulan purnama turun ke pangkuannya sewaktu Abuya Muda waly masih dalam kandungan, meskipun mimpi tidak dapat dijadikan dalil pada hukum, tetapi dalam pemahaman isyarat banyak benarnya. Dan ini dalam al-Quran ketika menggambarkan mimpi raja Mesir yang kemudian ditakwilkan. Maka nyatalah kebenarannya bahwa puteranya akan menjadi ulama besar.
 
     Pada waktu kecil, nama Abuya adalah Muhammad Waly, setelah beliau berada dalam jajaran para Ulama besar di Sumatra Barat, beliau bergelar Mangku Mudo, atau Tuanku Mudo Waly, atau Angku Aceh. Setelah kembali dari Sumbar, di Labuhan haji masyarakat nemanggilnya dengan Teunku Muda Waly, sedangkan beliau sendiri menulis namanya dengan Muhammad Waly atau secara lengkapnya Syeikh Haji Muhammad Waly Al-Khalify.

Baca juga: SILSILAH/NASAB KETURUNAN ABUYA MUDA WALY AL-KHALIDY




Terimakasih Atas Kunjungan Anda!

Enter your email address:

Author-rights® by: QH

Blogger Tips and TricksLatest Tips And TricksBlogger Tricks
notifikasi
close