Thursday, 19 January 2017

KONDISI MAKAM IBUNDA RASULULLAH SANGAT MEMPRIHATINKAN



Foto seseorang yang disertakan pada gambar dibawah  merupakan pakar Sejarawan asal Somalia yang bernama Dr. Hassan Sheikh Hussein Osman, yang berhasil memasuki kawasan yang masuk dalam “restricted area” (daerah terlarang) untuk dikunjungi. Tepatnya berada di sebuah desa bernama “Abwa”, terletak 230 km di sebelah Utara kota Makkah. Beliau mengunjungi kawasan terlarang tersebut pada 27 Agustus 2015.



Tahukah anda tentang kawasan terlarang itu?
Itu adalah kawasan sebuah area dimana Sayyidah Aminah, Ibunda Sayyidina Muhammad Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam dimakamkan. Adapun makam Sayyidah Aminah berada pada bagian area yang berwarna gelap, posisinya di belakang Dr. Hasan (lihat Foto, yang diambil pada 27 Agustus 2015). Tanahnya lebih gelap akibat sisa-sisa tumpahan miyak yang membekas di area makam tersebut.

Di dalam peta, Anda dapat melihat dan mengetahui pasti posisi letak makam Ibunda Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam melalui koordinat GPS: 23°06′33″N 39°05′40″E.



Foto tersebut di atas merupakan kondisi terkini makam dari seorang Ibu yang telah melahirkan sosok manusia terbaik di alam semesta ini, makam Ibunda Rasulullah, yang kini tidak terawat, terbengkalai, dan bahkan dijadikan sebagai area terlarang untuk dikunjungi. Sebagaimana terlihat dalam foto, makam Ibunda Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam sekarang nyaris tidak dapat dikenali, sebab pada tahun 1998, entah karena alasan apa, situs tersebut dihancurkan dan diratakan dengan menggunakan Bulldozer oleh Wahabi. Sebelum diratakan, makam Sayyidah Aminah diberi tumpahan minyak terlebih dahulu dengan tujuan untuk menghinakan Sayyidah Aminah dan juga agar tempat itu dijauhi orang-orang sehingga tidak lagi dikunjungi. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kini sisa-sisa tumpahan minyak itu masih membekas di area makam seperti yang terlihat pada foto kunjungan Dr. Hassan Sheikh Hussein Osman.

Baca juga:

Dan berikut kami sertakan sekelumit kisah sebagaimana diceritakan oleh Dr. Hassan Sheikh Hussein Osman saat berziarah ke makam Sayyidah Aminah:
“Aku melakukan pendakian terakhir dari gunung ini (kawasan Abwa) dimana makam Sayyidah Aminah berada pada tanggal 12 Dzulqo’dah 1436 H (atau 27 Agustus 2015). Kami membersihkan sisa-sisa tumpahan minyak mesin yang terdapat pada makam dengan menggunakan semprotan air sebanyak 10 liter air. (Catatan: Jadi, area makam Sayyidah Aminah adalah pada bagian yang berwarna gelap, posisinya di belakang Dr. Hasan –red). Kemudian kami menanam sebatang pohon (yang tahan dan tidak memerlukan air dalam jangka waktu sebulan). Aku menanam pohon tersebut pada bagian kiblat dari makam. Kami menyemprotkan 1 botol minyak wangi Attar (Kasturi) di atas makam. Setelah itu, kami memperkenalkan diri kepada sayyidah Aminah, memberi salam kepadanya, dan berterima kasih kepadanya karena telah melahirkan junjungan yang mulia Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam. Kemudian kami membaca surat Yasiin, membaca surat al-Ikhlash 11 kali, Alhamdulillah, dan berdoa. Setelah itu kami pergi.

Saat hendak pergi, seorang Polisi berpangkat sersan beserta seorang warga sipil mendaki gunung dan mencari-cari keberadaan kami, lalu mereka menegur dan meminta informasi pribadi termasuk juga paspor kami. Dengan wajah marah, Sersan yang pembohong itu mengatakan pada kami bahwa itu adalah makam seorang Pakistan. (Catatan: Berdasarkan literatur “backpack” saya, memang biasanya yang ‘bandel’ dan sering mengunjungi makam tersebut adalah orang Pakistan, jadi sepertinya Polisi tersebut sedang berusaha mengkamuflasekan makam Sayyidah Aminah sebagai makam orang Pakistan –red). Warga sipil yang ikut dengan polisi tersebut juga banyak berbicara tentang “syirik” dan bertanya apa yang telah kami tinggalkan (lakukan) di makam tersebut, apalagi setelah mengetahui bahwa aku memiliki Attar. Tidak ada tanda-tanda umum pelarangan mengunjungi tempat ini, bagaimana seseorang akan tahu kalau tempat ini dilarang? Cukuplah pengalamanku dengan dua orang ini”.
Sayyidil Habib Umar bin Hafidz dari Hadhramaut Yaman ketika menceritakan detik-detik wafatnya Ibunda Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam menjadi sangat begitu sedih sampai tidak mampu membendung air matanya dan menangis tersedu-sedu. Beliau berkata, “Jika Aminah tidak selamat, maka tak ada seorang pun di hari pembalasan yang akan selamat! Tidak ada seorang pun di hari pembangkitan akan selamat!”.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan dan menjaga aqidah kita, keluarga dan keturunan kita, untuk tetap berpegang teguh pada aqidah ahlussunnah wal jamaah.

Tuesday, 17 January 2017

Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dan Ryamizard jadi Target Operasi Intelijen Pihak Asing



Ketegasan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo banyak menuai dukungan dari rakyat Indonesia. Namun, sikap itu justru membuatnya “diserang” oleh jurnalis asing.

intelijen – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu telah menjadi target pihak asing karena dianggap menjadi penghalang bagi kepentingan dan dominasi pihak asing di Indonesia.


Pendapat itu disampaikan pengamat politik Muslim Arbi kepada intelijen (16/01). Gatot dan Ryamizar mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi dan sangat berpihak kepada rakyat.


Menurut Muslim Arbi, “serangan” pihak asing itu dijalankan melalui tulisan-tulisan jurnalis asing. “Saat ini pejabat-pejabat yang dianggap berbahaya buat asing, diolok-olok oleh jurnalis asing. Dua pejabat yang diincar adalah Gatot Nurmantyo dan Ryamizard Riyacudu,” ungkap Muslim Arbi.


Muslim menilai, pihak asing khawatir dengan ketokohan Jenderal Gatot Nurmantyo yang lebih dekat kepada rakyat dan antiasing. “Pihak asing tidak suka jika pada saatnya Indonesia dipimpin Jenderal Gatot Nurmantyo. Nasionalisme Gatot yang tinggi, jadi hitungan,” papar Muslim.


Secara khusus, Muslim menyorot tulisan penulis asal Selandia Baru, John McBeth. Tulisan MCBeth yang bertajuk “Widodo, His Paranoid General and a ‘Rotting Situation’ in Indonesia” merupakan bagian dari skenario menjauhkan Panglima TNI dengan rakyat. “Tulisan John McBeth bagian propaganda untuk menjelekkan Panglima TNI di dunia internasional,” papar Muslim.


Dalam tulisan yang dimuat di South China Morning Post (15/01), McBeth menyebut Gatot sebagai “jenderal paranoid”.






McBeth juga menunjukkan ketidaksukaan terhadap Menteri Pertahanan Ryamizard Riyacudu yang pernah menjabat KSAD era 2000-an. Dalam artikel itu, MCBeth menuliskan, Ryamizad mencurigai perwira Indonesia yang berlatih di luar negeri.

John McBeth, jurnalis asal Selandia Baru, menyebut panglima TNI sebagai “jenderal paranoid” di South China Morning Post. Artikel yang dirilis pada Ahad (15/1/2017) itu berjudul “Widodo, His Paranoid General and a ‘Rotting Situation’ in Indonesia.”


Baca juga:

Nasab Abuya Muda Waly al Khalidy
Penulis Sirah Nabi Pertama kali

Mengapa John McBeth menyebut Jenderal Gatot dengan sebutan jenderal paranoid? Penulis buku Reporter. Forty Years Covering Asia itu menyorot enam hal.


Pertama, ia menyebut teori konspirasi yang dikemukakan Jenderal Gatot sebagai sesuatu yang menggelikan.


Kedua, John McBeth menilai, TNI dibawah kepemimpinan Jenderal Gatot mundur bak menghadapi perang dingin yang paranoid terhadap Amerika Serikat dan Australia.


Ketiga, kecurigaan Jenderal Gatot bahwa pelatihan marinir AS di Australia Utara ada kaitannya dengan upaya pengambilalihan Papua.


Keempat, John McBeth menyebut Jenderal Gatot mencurigai sejumlah perwira yang mengikuti latihan di luar negeri terpengaruh dan menjadi agen asing.


Kelima, kecurigaan Jenderal Gatot bahwa kekuatan asing terlibat proxy war untuk melemahkan Indonesia.


Keenam, keputusan Jenderal Gatot menangguhkan kerjasama militer dengan Australia, baru-baru ini. Sikap terakhir ini, disebut John McBeth sebagai keputusan Gatot tanpa berkonsultasi dengan Presiden Jokowi.


Monday, 16 January 2017

KECERDASAN MENURUT HUJJATUL ISLAM AL-IMAM GHAZALI



Menurut Imam Al-Ghazali, kecerdasan spiritual dalam bentuk mukasyafah (penyingkapan langsung) dapat diperoleh setelah roh terbebas dari berbagai hambatan. 

Yang dimaksud hambatan di sini ialah kecenderungan duniawi dan berbagai penyakit jiwa, termasuk perbuatan dosa dan maksiat. Mukasyafah merupakan sasaran terakhir para pencari kebenaran dan mereka yang berkeinginan meletakkan keyakinannya di atas kepastian. 

Kepastian yang mutlak tentang kebenaran hanya mungkin dapat dicapai ketika roh tidak lagi terselubung khayalan dan pikiran. (Lihat mukadimah Ihya' Ulumuddin). 

Kecerdasan spiritual, menurut Al-Ghazali, dapat diperoleh melalui wahyu dan atau ilham. Wahyu merupakan kata-kata yang menggambarkan hal-hal yang tidak dapat dilihat secara umum, diturunkan Allah kepada nabi-Nya untuk disampaikan kepada orang lain sebagai petunjuk-Nya. Sedangkan, ilham hanya merupakan pengungkapan (mukasyafah) kepada manusia pribadi yang disampaikan langsung masuk ke dalam batin seseorang. 

Al-Ghazali tidak membatasi ilham itu hanya pada wali, tetapi diperuntukkan kepada siapa pun yang diperkenankan oleh Allah. Menurut dia, tidak ada perantara antara manusia dan pencipta-Nya. Ilham diserupakan dengan cahaya yang jatuh di atas hati yang murni dan sejati, bersih, dan lembut. Dari sini, Al-Ghazali tidak setuju ilham disebut atau diterjemahkan dengan intuisi. 

Ilham berada di wilayah supra consciousness, sedangkan intuisi hanya merupakan sub-consciousness. Allah SWT sewaktu-waktu dapat saja mengangkat tabir yang membatasi Dirinya dengan makhluk-Nya. Ilmu yang diperoleh secara langsung dari Allah itulah yang disebut 'ilm al-ladunni oleh Al-Ghazali. (Lihat karyanya, Risalah al-Ladunniyyah). 

Orang yang tidak dapat mengakses langsung ilmu pengetahuan dari-Nya tidak akan menjadi pandai karena kepandaian itu dari Allah. Al-Ghazali mengukuhkan pendapatnya dengan mengutip surah Al-Baqarah: 269. "Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Alquran dan Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)." 

Al-Ghazali mengakui adanya hierarki kecerdasan, dan hierarki ini sesuai dengan tingkatan substansi manusia. 

Namun, ia menyatakan, hierarki ini disederhanakan menjadi dua bagian, yaitu kecerdasan intelektual yang ditentukan oleh akal (al-aql) dan kecerdasan spiritual yang diistilahkan dengan kecerdasan rohani, ditetapkan dan ditentukan oleh pengalaman sufistik. 

Agak sejalan dengan Ibnu Arabi yang menganalisis lebih mikro lagi tentang kecerdasan spiritual dengan dihubungkannya kepada tiga sifat ilmu pengetahuan ini, yaitu pengetahuan kudus (ilm al-ladunni), ilmu pengetahuan misteri-misteri (ilm al-asrar), dan ilmu pengetahuan tentang gaib (ilm al-gaib). 

Ketiga jenis ilmu pengetahuan tersebut tidak dapat diakses oleh kecerdasan intelektual (Ibnu Arabi, Futuhat Al-Makkiyyah, Juz IV, hlm 394). 

Tentang kecerdasan intelektual, Ibnu Arabi cenderung mengikuti pendapat Al-Hallaj yang menyatakan intelektualitas manusia tidak mampu memahami realitas-realitas. Hanya dengan kecerdasan spirituallah manusia mampu memahami ketiga sifat ilmu pengetahuan tersebut di atas. 

Al-Ghazali dan Ibnu Arabi mempunyai kedekatan pendapat di sekitar aksesibilitas kecerdasan spiritual. Menurut Al-Ghazali, jika seseorang mampu menyinergikan berbagai kemampuan dan kecerdasan yang ada pada dirinya, maka yang bersangkutan dapat 'membaca' alam semesta (makrokosmos/al-alam al-kabir). 

Kemampuan itu merupakan anak tangga menuju pengetahuan tertinggi (makrifat) tentang pencipta-Nya. Karena alam semesta, menurut Al-Ghazali dan Ibnu Arabi, merupakan 'tulisan' atau bagian dari ayat-ayat Allah. 

Al-Ghazali menuturkan, hampir seluruh manusia pada dasarnya dilengkapi kemampuan mencapai tingkat kenabian dalam mengetahui kebenaran, antara lain, dengan kemampuan membaca alam semesta tadi. 

Fenomena kenabian bukanlah sesuatu yang supernatural, yang tidak memberi peluang bagi manusia dengan sifat-sifatnya untuk menerimanya. Dengan pemberian kemampuan dan berbagai kecerdasan kepada manusia, kenabian menjadi fenomena alami.

Keajaiban yang menyertai para rasul sebelum Nabi Muhammad bukanlah aspek integral kenabian, tetapi hanyalah alat pelengkap alam mempercepat umat meyakini risalah para rasul itu. 

Baca juga

Bahkan, menurut Al-Ghazali, semua manusia pada dasarnya memenuhi syarat menjadi nabi, namun Allah menentukan hanya sebagian kecil di antaranya yang dipilih. Seruan penggunaan model-model kecerdasan di dalam Alquran tidak secara parsial. Keunggulan manusia terletak pada kemampuannya menyinergikan ketiga kecerdasan tersebut.

Seseorang yang hanya memiliki kecerdasan intelektual (IQ) belum tentu memiliki kejujuran, kesabaran, dan ketaatan, karena sifat-sifat ini lebih ditentukan kecerdasan yang lebih tinggi, yakni kecerdasan emosional (EQ) atau kecerdasan spiritual (SI). 

Sebaliknya, EQ dan SI tanpa dilengkapi IQ juga tidak akan banyak berarti karena kedua kecerdasan yang disebut pertama sesungguhnya merupakan kelanjutan dari kecerdasan IQ. Seseorang tidak akan sampai pada kecerdasan EQ dan SI tanpa melewati kecerdasan IQ.

Di dalam kehidupan bermasyarakat, ketiga model kecerdasan itu sangat dibutuhkan terutama di kalangan pemimpin masyarakat dan lebih khusus lagi pemimpin perusahaan.

Menurut beberapa survei ahli manajemen, tingkat prestasi IQ yang dimiliki seorang manajer tidak berbanding lurus dengan tingkat prestasi perusahaan yang dipimpinnya. Seorang manajer dituntut memiliki kecerdasan ekstra berupa kecerdasan kedua (EQ) dan ketiga (SI).

Sebagai pribadi Muslim, sulit dibayangkan akan sukses menjadi abid (hamba) dan khalifah yang sukses tanpa memiliki secara seimbang ketiga model kecerdasan tersebut. Manusia paripurna (insan kamil) sesungguhnya tidak lain ialah orang yang mampu memadukan secara simultan ketiga kecerdasan tersebut di dalam dirinya. 

Di sinilah kekhususan Al-Ghazali jika dibandingkan dengan Ibnu Arabi. Al-Ghazali masih tetap berpikir realistis di dalam mengembangkan pendapatnya. Ia masih tetap memandang penting kecerdasan ketiga atau apa pun namanya itu tetap dibumikan. 

Ia mencela para sufi yang tidak realistis memandang kenyataan masyarakat. Mungkin itulah sebabnya ia dikategorikan sebagai penganut tasawuf akhlaqi. Berbeda dengan Ibnu Arabi yang dikategorikan sebagai penganut tasawuf falsafi.

Al-Ghazali mencela orang-orang yang sibuk dengan urusan sunah dan melalaikan ibadah fardhu, mengabaikan formalitas ibadah untuk substansi ibadah, mengabaikan substansi ibadah demi formalitas ibadah, dan waspada terhadap yang syubhat tetapi terjebak di dalam hal yang haram. 

Al-Ghazali juga mencela para ilmuwan yang tidak memedulikan yang lain kecuali hanya ilmu, dengan kata lain ilmu untuk ilmu. Seolah-olah tidak ada tempat nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.

Al-Ghazali mencela ahli tasawuf yang sibuk dengan hakikat tetapi mengabaikan syariat, sibuk membahagiakan batinnya tetapi mengabaikan keluarga dan masyarakatnya, asyik dengan akhiratnya dan mengabaikan dunianya, mereka memuji prestasi spiritualnya lantas mengasingkan diri dengan orang lain, dan menganggap ilmu tasawuf paling istimewa dan paling benar, sibuk berpolemik soal hukum tapi tidak menghargai waktu, serta sibuk memperbanyak hukum dan peraturan tetapi semakin sedikit mengamalkannya.

Dalam soal muamalah, Al-Ghazali juga mencela ahli muamalah yang teperdaya karena banyak bermain di wilayah syubhat, sibuk menjalin hablun minannas tetapi melupakan hablun minallah, sibuk mengumpul harta tetapi tidak teliti menghitung zakatnya, dan sibuk melakukan inovasi tetapi mengabaikan tanggung jawabnya sebagai khalifah.

Wallahu'alam...

Sunday, 15 January 2017

Mu'tazilah





    Firqah Mu'tazilah disebut juga sebagai Ahl al-'Adl wa at-Tauhid. Mereka dikenal dengan sebutan kaum Qadariyah dan 'Adliyah.
Akan tetapi, mereka sendiri berpendapat bahwa sebutan "Qadariyah" itu mubham (tidak jelas bagi mereka/tidak diterima oleh mereka), dan mereka mengatakan bahwa gelar tersebut seyogyanya diberikan bukan kepada mereka, melainkan kepada orang-orang yang mempercayai bahwa qadar (determination) yang bersangkut-paut dengan perkara baik dan buruk adalah sudah ditetapkan dari dan oleh Allah. 

    Dengan penolakan gelar tersebut, kaum Mu'tazilah berusaha untuk menghindarkan diri dari noda (ignominy) yang sudah umum dibebankan kepada nama tersebut, berhubung Nabi sendiri pernah bersabda, "Qadariyyah adalah Majusinya kaum Muslimin." Penolakan mereka 
itu dibantah keras oleh firqah Shifatiyyah dengan alasan bahwa Jabariyyah dan Qadariyyah merupakan dua istilah yang saling kontradiktif (tanaaqudl). Bagaimana bisa, tanya mereka, suatu istilah yang kontradiktif diterapkan kepada firqah lain? Dengan mengemukakan hadits, 
selanjutnya kaum Shifatiyyah berpendapat bahwa Qadariyyah adalah penentang taqdir Allah. 

Doktrin-Doktrin Umum Mu'tazilah 

1. Allah Kekal.

    Kekekalan adalah karakteristik-Nya yang khas. Firqah Mu'tazilah menolak
    semua sifat-sifat Allah (yang menurut firqah lain dipandang kekal). Menurut
    mereka, Allah mengetahui ('ilmu), kuasa (qudrah), hidup (hayah) dengan
    dzat-Nya, bukan dengan sifat-sifat-Nya, karena kalau sifat-sifat-Nya
    berdampingan dengan kekekalan-Nya yang merupakan karakteristik-Nya
    yang khas, berarti sifat-sifat itu pun ambil bagian dalam Dzat Allah. (Dalam
    kata lain, Allah mengetahui itu dengan Dzat-Nya, bukan dengan sifat-sifat-           Nya; pent.) Mengenai kalam Allah, mereka berpendapat bahwa kalam Allah
    itu bersifat temporal (tidak eternal) dan diciptakan (makhluk). Ia terdiri dari       suara dan huruf-huruf dan kemudian ia ditulis oleh manusia, dan dengan             demikian berarti Alquran itu makhluk. Lagipula, segala yang bertempat dan
    diciptakan itu dinamakan makhluk dan setiap makhluk pasti akan lenyap             (binasa/tidak kekal). Mereka juga berpendapat bahwa iradah (kehendak)               Allah, mendengar (sama'), dan melihat (bashar) bukanlah merupakan                   kesatuan sifat yang terdapat dalam Dzat Allah. Mereka berbeda lagi                       pendapatnya ketika menerangkan makna-makna sifat dan cara- cara                     wujudnya sifat-sifat itu.  
    Mereka dengan tegas menolak bahwa Allah dapat dilihat dengan mata                   (telanjang) di hari akhir nanti di sorga.Mereka juga menolak kemungkinan           deskripsi apa pun tentang Allah dalam bentuk anthropomorthis, seperti               misalnya, Dia bertempat, berbentuk, berbadan, bergerak, berubah, bergeser,       atau beremosi. Jadi, ayat- ayat Alquran yang mendeskripsikan tentang diri           Allah haruslah ditafsirkan secara metoforis. Begitulah menurut mereka,
    apa yang dimaksud dengan Tauhid. 

2. Manusia Memiliki Kekuasaan untuk Berbuat Baik dan Buruk serta
    Bertanggung Jawab terhadap perbuatan-perbuatannya itu. 
    
    Mereka sepakat bahwa manusia akan mendapatkan ganjaran atau                         siksaan di akhirat nanti semata-mata karena perbuatannya sendiri di dunia         ini. Manusia tidak dapat menyalahkan Allah dalam perbuatan jelek yang dia       lakukan, karena kejahatan, kezaliman, kufur dan dosa tidaklah dinisbatkan         kepada Allah, karena jika Dia menciptakan perbuatan zalim, berarti Ia zalim       sebagaimana Ia menciptakan keadilan, maka Ia pun Adil. Mereka sepakat             bahwa Allah tidak berbuat, kecuali kebaikan dan kebajikan. Dari segi hikmah-     Nya, Dia harus menjaga kemaslahatan para hamba-Nya. Adapun masalah "al-     ashlah dan al-luthf" merupakan perkara yang masih mereka perselisihkan.         Mereka menamakan hal ini dengan "al-'adlu". 

3. Pelaku Dosa Besar Kekal di Neraka jika Tidak Bertaubat. 

    Jika seorang mukmin mati dalam keadaan mamatuhi hukum Allah dan                 bertaubat, dia akan mendapat ganjaran dari Allah dan pahala, sedangkan             pemberian keutamaan adalah sesuatu yang berbeda dari ganjaran dan                 pahala. Tetapi, jika dia mati dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa-dosa           besar yang dilakukannya, dia akan mendapatkan siksaan yang kekal dari             Allah, meskipun siksaannya itu akan lebih ringan daripada siksaan terhadap       orang kafir. Inilah yang mereka sebut dengan janji dan ancaman (al-wa'du wa     al-wa'iid) dari Allah.

4. Mengenai Wahyu dan Akal 

    Mereka sepakat bahwa pokok-pokok ilmu dan menyukuri nikmat merupakan     hal yang wajib sebelum turunnya wahyu. Manusia juga wajib dengan akalnya     untuk mengetahui perkara yang baik dan buruk. Ia pun wajib melakukan             kebajikan dan menjauhi kejahatan tersebut. Allah memberitahukan kepada         manusia kewajiban-kewajiban tersebut melalui rasul-rasul-Nya sebagai ujian     dan cobaan bagi manusia (trial and probation). 

    Kaum Mu'tazilah sendiri juga berbeda pendapat di antara mereka tentang imamah. Sebagian dari mereka berpendirian bahwa imamah mesti ditetapkan dengan pengangkatan, sedangkan yang lain berpendapat bahwa hal itu harus melalui pemilihan. 

Baca juga: 

Sumber: Sekte-Sekte Islam, Muhammad bin Abdul Karim asy-Syahrastani

Tuesday, 10 January 2017

Abu Ahmad Perti




Abu Ahmad Perti Ulama Tegas Yang Istiqamah Dalam Ilmu Dan Amal

    Abu Muhammad bin Zamzami biasa masyarakat memanggil beliau dengan sebutan Abu Ahmad Perti, Ia Dilahirkan pada tahun 1936 di desa Lambro Deyah, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Beliau merupakan keturunan keluarga ulama dan pejuang yang kental dalam melawan kolonialisme Belanda dan pendudukan Jepang. Pada masa pendudukan, kedua orang tua beliau (Tgk. Zamzami dan Ummi Sakdiah) mengalami masa-masa sulit dan hidup dalam keadaan berpindah-pindah. Keadaan ini membuat ayah beliau bercita-cita agar Muhammad kecil nantinya dapat fokus dalam dunia ilmu pengetahuan sehingga dapat menjadi seorang alim ulama yang dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa ini, sekaligus meneruskan garis keturunan keluarga yang telah bersemi. Beliau masih ada hubungan keturunan dengan Tgk. Chik. Tanoh Merah boengcala Aceh Besar, yaitu seorang ulama besar dan juga pejuang yang melawan penjajahan Belanda bersama-sama dengan Tgk. Chik Ditiro dan Tgk. Chik Tanoh Abei. Dayahnya yang berada di boengcala, Aceh Besar pada saat itu, telah dibakar oleh kolonialis Belanda. Almarhum Tgk. Chik. akhirnya syahid di medan pertempuran tepatnya di Tangse, Kabupaten Pidie, dan dikuburkan disana juga, (ada yang mengatakan Almarhum syahid di boengcala, namun pendapat kuat mengatakan di Tangse).

    Abu Muhammad Zamzami atau Abu Ahmad Perti, tokoh yang dikenal sangat vokal dan teguh dalam pendirian ini, melakukan pengembaraan dalam menuntut ilmu dari dayah ke dayah. Setelah belajar di Sekolah Rakyat di Boengcala, Aceh Besar, beliau menuntut ilmu agama untuk pertama kalinya secara formal di Dayah Ulee Titie pada seorang Ulama Kharismatik saat itu, yaitu Almarhum Abu Ishak (Abu/ayah dari Tgk. Athailah Ulee Titie) selama 5 tahun. Setelah itu beliau memutuskan untuk mengembara hingga ke Aceh Selatan, tepatnya di Desa Trieng Meudoro, Sawang, dan belajar pada Abu Ishak selama 3 tahun. Karena merasakan pendidikan agama Islam dirasakannya masih belum cukup, beliau ‘hijrah’ lagi dalam pergulatannya mencari ilmu, hingga akhirnya berlabuh di Dayah Darussalam, Labuhan Haji, (Labuhan Haji Barat sekarang- red) dan berguru pada Abuya Syeikh Muda Waly al Khalidy, selama lebih dari 14 tahun. Kalau kita perhatikan dari perjalanan Abu Ahmad Perti dalam mencari ilmu, nampak ciri khas masa lalu dari ulama Aceh yang murni dan haus akan pencarian ilmu pengetahuan. Dan hal ini menjadi wajar jika beliau sangat bersemangat, dikarenakan juga garis keturunannya ulama yang ada padanya.

    Abu Ahmad dikenal sebagai Abu Ahmad Perti, dikarenakan kiprah beliau didalam organisasi islam Ahlussunnah Wal Jama’ah tersebut begitu besar. Baik itu berupa perjuangan hingga pengorbanan beliau dalam menegakkan dan mempertahankan tujuan, visi dan misi organisasi islam tersebut.

Kisah Abu Ahmad Perti Mendirikan Lembaga Pendidikan

    Pada tahun 1968 (8 tahun berselang setelah meninggal Abuya Hadratusy Syech H. Muda Waly Al Khalidy) Abu Ahmad Perti masih berada di Dayah Darussalam, Labuhan Haji. Tiba-tiba beliau mendapatkan surat dari abang sepupunya (almarhum Abu Lamche’ pendiri Dayah Daruzzahidin Lam’ateuk Aceh Besar) yang mengabarkan padanya bahwa telah terjadi penganiayaan oleh sekelompok masyarakat terhadap orang-orang yang melakukan I’adah Dzuhur setelah shalat Jum’at di daerah Lam Ateuk, Aceh Besar. Berdasarkan hujjah beliau, bahwa permasalahan I’adah telah diterangkan secara gamblang dalam kitab –kitab Fiqih. Maka pada hari itu juga Abu Ahmad meminta izin kepada semua orang di Dayah Darussalam dan berpamitan kepada para sahabat, guru, murid dan terutama para Ummi almarhum Abuya, untuk dapat pulang ke kampung halamannya. Hal ini beliau lakukan karena telah tiba saatnya bagi beliau untuk mengamalkan ilmunya, menegakkan kebenaran dan memberikan pencerahan I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah yang benar bagi masyarakat di kampung halamannya. Menurut cerita, bahwa Abu Ahmad pulang dari Labuhan Haji menuju Aceh Besar dengan menggunakan sepeda selama 3 hari 3 malam bersama-sama dengan Abu Thantawi Jauhari dan Tgk.Mahyuddin.

    Sesampainya di kampung halaman, Abu Ahmad Perti langsung berpidato di depan masyarakat tanpa rasa gentar sedikitpun. Dalam menyampaikan hujjahnya, beliau mengajak siapapun itu untuk berdialog dan berdebat dengan beliau. Alhamdulillah, tidak lama setelah itu, masyarakat dapat kembali melaksanakan I’adah Dzuhur tanpa rasa takut. Metode penyebaran Islam oleh beliau dilaksanakan dengan cara tegas dan efektif, jika telah didebatkan suatu permasalahan dan beliau memenangkan debat tersebut, maka tanpa kompromi masalah hukum agama tersebut langsung diamalkan dan direalisasikan di masyarakat.

    Pada usia yang masih 32 tahun, Abu Ahmad Perti sudah mendirikan Dayah yang diberi nama Istiqamatuddin Darul Mu’arif. Dayah ini didirikan di tanah seluas 2,5 hektar di Desa Lambro Bileu, Kuta Baro. Pada masa itu di tanah tersebut banyak pohon Mangga Golek, sehingga beliau juga terkenal dengan panggilan Abu Ahmad Mamplam Golek. Untuk membeli pengeras suara (mix) pertama kalinya adalah dari hasil penjualan Mangga Golek dari kebun di Dayah tersebut.

    Hal ikhwal nama Istiqamatuddin memiliki latar belakang cerita. Bahwa sepulang dari musyawarah untuk menentukan waktu awal puasa, beliau berbeda pendapat dengan sekelompok hadirin yang ada di musyawarah tersebut (ulama-ulama inshafuddin Aceh Besar dan se-kotamadya di rumah Abu Krueng Kalee di Kedah). Permasalahan saat itu adalah soal penetapan rukhyatulhilal untuk memulai puasa. Abu mengambil jalan untuk melihat bulan dengan hisab khumasy, tetapi bukan beramal dengan hisab khumasy, umpamanya orang memburu rusa dengan memakai anjing, dalam hal ini bukan anjingnya yang dimakan tapi rusanya yang dimakan.

Abu juga pernah bertanya masalah puasa pada Abu Chik Kuta Blang (ulama Aceh Utara yang belajar di Masjidil Haram selama 30 tahun). Dalam dialognya, Abu bertanya :

Abu Ahmad : hisab apa yang tidak pernah kacau di mekah?

Abu Chik : selama saya dimekah 30 tahun hisab yang tidak pernah kacau dimekah adalah hisab khumasy.

    Istiqamatuddin berarti ketetapan dan keteguhan dalam beragama. Darul Mu’arrif artinya adalah sebuah negeri yang memperkenalkan hak dan bathil, Abu mengkasadkan didalam hatinya bilamana suatu ketika dunia ini bergejolak dengan berbagai prinsip yang berbeda tapi Insya Allah pesantren ini akan tetap dan teguh dalam prinsipnya yang suci. Beliau sering mengatakan dalam berbagai kesempatan,  “Yang hak tetap benar dan yang bathil tetap harus dikesampingkan, sekalipun dipoles dengan berbagai keindahan”. ungkap Abu.

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

    Ketegasan Abu Ahmad Perti dapat terlihat dari sikap beliau ketika menanggapi masyarakat yang melakukan perbuatan maksiat. Dikisahkan jika Abu Ahmad Perti melihat orang-orang di warung kopi sedang bermain batu/domino, maka beliau tidak segan-segan untuk membubarkan mereka sehingga masyarakat di sekitar akan berpikir dua kali kalau ingin berbuat yang tidak-tidak. Tindakan berani itu juga dilakukan pada masalah pemahaman agama dan diterapkan juga kepada para santrinya. Beliau termasuk ulama yang mengharamkan rokok dan tidak segan-segan untuk memukul santrinya dengan rotan apabila ketahuan ada yang merokok. Di dalam proses belajar mengajar, Abu Ahmad Perti selalu membukanya dengan berdo’a : ”Ya Allah, jadikanlah kami daripada golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah,dan jangan jadikan kami daripada golongan ahli bid’ah dan Wahabi”.

    Pada sisi yang tegas dan gagah berani tersebut, juga tersimpan adanya keterbukaan dalam memberikan kesempatan bagi orang-orang yang berbeda paham. Abu tidak pernah lupa untuk menawarkan sebuah diskursus dan perdebatan terbuka mengenai hujjah yang dipegang. Ada sebuah cerita, Abu mendapatkan surat yang meminta kepada beliau untuk menyelesaikan masalah ajaran Salik yang telah meresahkan masyarakat di Kuta Iboeh (salah satu nama kampung di Labuhan Haji). Kemudian beliau datang ke masyarakat tersebut dan berpidato dengan judul “Membasmi Salik”. Pada penutup pidato beliau mengatakan, “Saya datang dari Banda Aceh tanpa membawa apa-apa, kalau ada yang tidak senang dengan ucapan saya dan mau berdebat, datanglah ke Dayah Darussalam akan saya tunggu dengan senang hati. Dan kalau ada yang mau menyihir saya, sihir saja sekarang kalau mampu, sesungguhnya Allah SWT menjadi pelindung setiap kebenaran!” Sungguh sebuah tindakan lugas yang terukur dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Seperti halnya pepatah : “tak kenal maka tak sayang”, Kharisma dan kewibawaan Abu Ahmad Perti membuat semua orang yang ditinggalkannya merasa sangat rindu dan kehilangan.

    Abu mengambil tarekat pada Almarhum Abuya Prof. DR. Muhibbuddin Muhammad Waly, 6 tahun sebelum beliau meninggal dan setelah beliau naik haji. Beliau sudah menyiapkan tempat-tempat suluk di dayahnya. Allah menentukan segalanya, ketika hal tersebut belum tercapai, Abu telah dipanggil untuk selama-lamanya, tepatnya pada tanggal 27 oktober 1999 M / 17 rajab 1420 H.

    Tepat dalam usia 63 tahun, beliau menghadap Allah SWT. Beliau meninggalkan 7 orang anak dan dua pesantren besar kepada Tgk. Thantawi Jauhari untuk Dayah Istiqmatuddin Darul Mu’arif dan menantu beliau Tgk. Mahdi M. Daud untuk memimpin Dayah putri Istiqmatuddin Darul Mu’ariffah. Seperti layaknya gurunya, Abu Muhammad Zamzami atau biasa dipanggil Abu Ahmad Perti, berpesan kepada seluruh murid-murid beliau dan seluruh pelajar yang sedang belajar di pesantren “Istiqamatuddin” Darul Mu’arrif agar berdo’a dan berharap agar kedua Dayah yang ditinggalkannya ini dapatlah sampai ke tangan Nabi Isa AS. Amien ya Allah. Amien ya rabbal alamin.

SILAKAN SHARE AGAR BISA DIAMBIL MANFAAT OLEH SAUDARA KITA YG LAIN.

(Ditulis oleh: Tgk. Naqsyabandi waly , dari berbagai sumber)

Monday, 9 January 2017

Abon Tanoh Mirah Ahli Ushul Fiqh




Ulama besar Aceh Ahli Ushul Fiqh

Tgk.H.Abdullah Hanafiah atau biasa disapa Abon Tanoh Mirah adalah seorang Ulama besar Aceh. Beliau murid Abuya Muda Waly yang ahli dalam bidang Ushul Fiqh. Setiap santri yang dididik oleh Abuya Muda Waly meraih keberkahan dan kesuksesan dalam semua bidang ilmu keislaman, namun semua murid Abuya memiliki spesialisasi masing-masing seperti Abun Aziz Samalanga ahli mantiq sehingga diberi gelar oleh Abuya dengan al-Mantiqi, Abu Keumala Ahli Tauhid, Abun Tanoh Mirah ahli Ushul Fiqh, Abu Tumin Ahli Tauhid, dan masih banyak murid-murid Abuya yang lain. 

Kalau mengaji dengan Abuya Muda Waly, setelah Abuya membaca dan menjelaskan kitab Tuhfah al-Muhtaj dalam Fiqh secara Tahqiq dan Tadqiq, maka diwajibkan bagi setiap murid untuk berdebat/berdiskusi dengan Abuya Muda Waly. Tapi bukan debat kusir, berdebat sama Abuya mesti mengaplikasikan seluruh ilmu seperti ilmu nahwu, sharaf, mantiq, ushul fiqh, qaidah fiqh, tafsir, hadits, dan lain-lain untuk mendzahirkan kebenaran bukan untuk menjatuhkan lawan. 

Pernah suatu hari Abun Tanoeh Mirah ketika sedang berdebat dengan Abuya Muda Waly, beliau minta izin keluar sebentar dari ruangan pengajian. Setelah diluar ruangan pengajian, Abun Tanoeh mirah menghisap rokok, memang di dalam ruangan pengajian tidak ada yang berani merokok karena Abuya sendiri tidak merokok dan bukan seorang perokok. Abuya Muda Waly tahu kalau muridnya Abun Tanoh Mirah minta izin keluar ruangan ketika lagi panas-panasnya berdebat untuk merokok. Tapi dibiarkan saja oleh Abuya Muda Waly. Setelah puas menghisap rokok, baru Abun Tanoh Mirah masuk lagi untuk melanjutkan perdebatan dengan Abuya Muda Waly. Yah, mungkin Abun keluar sebentar untuk merokok agar dapat surahan kitab, tidak buntu pemikiran. Jadi sambil merokok diluar ruangan, kepala Abun Tanoh Mirah berputar dengan kencang untuk menyiapkan bekal berdiskusi. 

Baca juga:

Menurut Abun Tanoh Mirah hukum merokok itu Tafshil: 

1. Mubah apabila dengan sebab merokok Cas kepala. 
2. Makruh apabila belum pernah merokok tiba-tiba merokok. 
3. Haram apabila merokok menyebabkan mabuk. 

Setelah menamatkan pendidikan di Dayah Darussalam Labuhan Haji, Abun Tanoh Mirah mendirikan Dayah/Pesantren di kampung halamannya yang diberi nama Dayah Darul Ulum. Dayah ini didirikan pada tahun 1957 tepatnya di Desa Tanoeh Mirah Kecamatan Peusangan Kabupaten Biereun Aceh. Pesantren beliau masyhur sampai ke Malaysia dan provinsi-provinsi di Indonesia. Beliau meninggal pada tahun 1989 dalam usia 63 tahun. 

Kisah yang saya tulis ini bukan untuk membanding-bandingkan atau menantang Ulama-ulama yang mengharamkan rokok secara muthlaq. Siapa saja yang mau ikut Ulama yang mengharamkan rokok secara muthlaq silahkan, yang mau ikut Ulama yang mentafshil hukum rokok juga silahkan. Semua kembali ke pribadi masing-masing.

Wallahu'alam.

Saturday, 7 January 2017

Majlis Taklim 212



السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Majelis Taklim 212 Al-Aziziah Telah Dibentuk Di Gampong Lampaseh Kota, Banda Aceh pada hari Sabtu, 07 january 2017.

Dalam upaya menjunjung tinggi perintah agama, menjaga kemurnian ilmu dan akidah Ahlussunnah Waljamaah serta sebagai responsif dari aksi 212 tahun 2016 lalu, Ketua Relawan Aswaja Kota Banda, Tgk Ismail M Husein, mendirikan pengajian Ahlussunnah Waljamaah di Lampaseh Kota, Banda Aceh.

Sesuai hasil dari penuturannya berikut ini yang disampaikan kepada QH siang tadi (Sabtu, 7/1/2107), menjelaskan majelis pengajiannya itu diberi nama sebagai Majelis Taklim 212 Al-Aziziah, didirikan tanggal 12 Desember 2016 di rumah Tgk Ibrahim merupakan Imam Gampong di Lampaseh Kota, Banda Aceh.

Historisnya berdiri majelis taklim tersebut setelah dirinya (Tgk Ismail-red) diminta Tgk Ibrahim agar dapat mengajari /memberi ilmu kepada anak-anaknya dan permintaannya disambut baik oleh Tgk Ismail dengan penuh rasa keikhlasan. Sedangkan penamaan 212 adalah sebagai sebuah bukti kebanggaan dari usaha perjuangan bela islam.

Sementara menurut keterangan dari Tgk Ibrahim mengatakan bahwa mendirikan majelis taklim di Lampaseh Kota adalah sebagai sebuah kewajiban sebagai Tgk Imam di kampungnya.

Sedangkan ilmu dan kitab-kita yang diajarkan adalah bersumber dari kitab-kitab ulama yang bermazhab assyafiyah. Untuk tahap pemula, dari ilmu fiqh ada Kitab Matan Ghayah Wattaqirb, dari ilmu nahwu Kitab Awamil, Al-jurumiyyah, dan shoraf ada Kitab Matan Bina. Sedangkan dari ilmu baca tulis Al-Quran ada tahsin, makhroj dan tajwid. Selain itu ada juga bahan-bahan zikir bersama santri untuk membersihkan hati agar menuntut ilmu menjadi mudah.

Mengenai jadwal pengajiannya, setiap malam mulai dari pukul 19.30 (ba’da Maghrib) sampai 21.30 WIB, kecuali untuk malam Jum’at dan Minggu. Dan sebagai misi dari majelis taklim 212 itu adalah mendidik generasi menjadi penerus agama di masa yang akan datang dalam bingkai akidah Ahlu sunnah Waljamaah.

Bagi yang berimat belajar di majelis taklim 212 Al Aziziaah silahkan datang ke rumah Tgk Ibrahim sesuai jadwal yang telah ditetapkan, tanpa dipungut biaya apapun.

Sebagai informasi tambahan, Tgk Ismail M Husein yang dikenal sebagai Ketua Relawan Aswaja Kota Banda Aceh, namun sekarang ia juga merupakan salah seorang dari pengurus sebuah organisasi market yang dibentuk pasca Aksi Bela Islam 212 tahun lalu (Korwil 212 Syariah Mart) untuk Aceh. 
Menurutnya, mini-market itu direncanakan akan launching di Jakarta Selatan tanggal 21 Januari 2017 setelah itu segera akan dilaunching juga di aceh. [admin]

Wednesday, 4 January 2017

Rezeki Allah Yang Beri




BUGHATS (BURUNG GAGAK) begitulah panggilannya.

Seorang ulama dari Suriah bercerita tentang do'a yang selalu ia lantunkan. Ia selalu mengucapkan do'a seperti berikut ini:

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﺭْﺯُﻗْﻨَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺮْﺯُﻕُ ﺍﻟﺒُﻐَﺎﺙَّ

"Ya Allah, berilah aku rezeki sebagaimana Engkau memberi rezeki kepada bughats".

Apakah "bughats" itu?
Dan bagaimana kisahnya?
"Bughats" anak burung gagak yang baru menetas. Burung gagak ketika mengerami telurnya akan menetas mengeluarkan anak yang disebut "bughats".
Ketika sudah besar dia menjadi gagak (ghurab).

Apa perbedaan antara bughats dan ghurab?

Telah terbukti secara ilmiah, anak burung gagak ketika baru menetas warnanya bukan hitam seperti induknya, karena ia lahir tanpa bulu. Kulitnya berwarna putih.

Saat induknya menyaksikanya, ia tidak terima itu anaknya, hingga ia tidak mau memberi makan dan minum, lalu hanya mengintainya dari kejauhan saja.

Anak burung kecil malang yang baru menetas dari telur itu tidak mempunyai kemampuan untuk banyak bergerak, apalagi untuk terbang.

Lalu bagaimana ia makan dan minum...?

Allah Yang Maha Pemberi Rezeki yang menanggung rezekinya, karena Dialah yang telah menciptakannya.

Allah menciptakan _aroma_ tertentu yang keluar dari tubuh anak gagak tersebut sehingga mengundang datangnya serangga ke sarangnya. Lalu berbagai macam ulat dan serangga berdatangan sesuai dengan kebutuhan anak gagak dan ia pun memakannya ماشاءالله..

Keadaannya terus seperti itu sampai warnanya berubah menjadi hitam, karena bulunya sudah tumbuh.

Ketika itu barulah gagak mengetahui itu anaknya dan ia pun mau memberinya makan sehingga tumbuh dewasa untuk bisa terbang mencari makan sendiri.

Secara otomatis aroma yang keluar dari tubuhnya pun hilang dan serangga tidak berdatangan lagi ke sarangnya.

Dia-lah Allah, Ar Razaq, Yg Maha Penjamin Rezeki.

... نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا

_...Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia..._
(QS. Az-Zukhruf: Ayat 32)

Rezekimu akan mendatangimu di mana pun engkau berada, selama engkau menjaga ketakwaanmu kepada Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam:
_"Sesungguhnya Malaikat Jibril membisikkan di dalam qalbuku bahwa seseorang tidak akan meninggal sampai sempurna seluruh rezekinya. Ketahuilah, bertaqwalah kepada Allah, dan perindahlah caramu meminta kepada Allah. Jangan sampai keterlambatan datangnya rezeki membuatmu mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya tidak akan didapatkan sesuatu yang ada di sisi Allah kecuali dengan menta'atinya."_

Jadi tidaklah pantas bagi orang-orang yang beriman berebut rezeki dan seringkali tidak mengindahkan halal haramnya rezeki itu dan cara memperolehnya.

Mari introspeksi diri, apakah muamalah dan pekerjaan yang kita lakukan ini sudah sesuai hukum الله atau belum. Mengetahui status hukum perbuatan dulu baru berbuat.
Itulah sikap selayaknya seorang muslim.


اَللّٰهُمَّ اَكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

_“Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.”_ (HR. Ahmad)

Oleh sebab itu wahai kaum muslim, janganlah kita takut akan kurangnya rezeki, Allah Subhanahuwata'ala sudah mengatur rezeki. Sadarilah kitalah yang sebenarnya tidak pernah puas dan qanaah (menerima) dalam mensyukuri nakmat. Perbanyaklah bersyukur dan beristiqfar agar kita disayang Allah Subhanahu wa ta'ala.

Semoga hidup kita dicukupkan oleh rezeki yang halalan thoyyiban dan dipenuhi keberkahan didalam mencari karunia Allah Subhanahuwata'ala diatas muka bumi ini.

آمــــــــــــــــــين يا رب العالمين
والله أعلمُ بالـصـواب

Semoga ada manfaatnya.
باركالله فيكم

Enter your email address:

Author-rights® by: QH

Blogger Tips and TricksLatest Tips And TricksBlogger Tricks
notifikasi
close